Laman

Kamis, 21 Mei 2015

Antara Hobi dan, ....

Hari ini aku banyak berfikir tentang bagaimana hidupku kedepan. Maksudku, dengan menyandang status: Maya Satih Kanteyan, ST di tahun 2018 nanti. Kuliah di Teknik Fisika memang penuh lika-liku. Aku pribadi menganggap ini susah, entahlah ada hal yang terus-menerus tinggal didalam pikiranku sejak lama sehingga muncul rasa takut luar biasa yang sulit dihilangkan.Wisuda kemarin mengingatkanku untuk segera mendongkrak nilai akademik yang carut-marut membuat hidupku semakin kacau dan kesedihan orang tua. Yaa... garda depan mulai terlihat, antara yang selalu cumlaud dan yang mengambil mata kuliah terbanyak. Sudah mulai terlihat, siapa yang ingin segera bekerja, menuntut ilmu, atau golongan orang-orang yang masih tidak jelas.

Aku jelas bukan garda depan. Mungkin tengah, atau belakang, atau hampir belakang, entahlah. Yang jelas satu hari ini aku berfikir "apa iya aku tertarik dengan ini" Hal hal yang penuh dengan matematika, atau bab fisika yang sangat tidak aku suka, sehingga aku wajib mengulang hingga lulus. Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada yang Excellent di sensor, katanya (memang begitu seharusnya), lalu bagaimana mahasiswa seperti aku yang memiliki sedikit rasa ingin menjadi seseorang yang excellent di sensor itu, Aku tahu, tidak cuma aku.

Seharusnya aku selalu mengingat bahwa karier dan hobby itu memang harus dipisahkan. Namun, apa daya, hobi ini semacam mengalir di dalam urat nadi ku. Kerja atau kuliah ya? Dulu aku memutuskan untuk bekerja, punya uang. Tapi setelah aku mengenal tim riset Akustik, aku jadi pengen kuliah Akustik. Namun, lagi-lagi.. hobi ini sangat 'mengganggu'. 

Dua tahun yang lalu sempat ditawari buat langsung masuk Institut Kesenian Jakarta di perfilman sama pakde (dosen sinematografi), tapi ya jelas ga boleh Bapak. UGM fardhu 'ain. Yogyakarta fardhu 'ain. Awal tahun kedua kemarin juga disuruh kuliah dobel perfilman. Kalo aku kuliahnya ga di Teknik Fisika yang super njeblug berasap hitam ya aku mau. Sadar dirilah sadar kemampuan.

Banyak orang yang mau masuk UGM, mau masuk Teknik, kuliah menuntut ilmu tapi tidak diterima. Banyak juga yang dengan mudah masuk, menyia-nyiakan waktu, ujung-ujungnya berprofesi yang jauh dari keteknikan. Sia-siakah kuliah 4 tahunan itu? Tidak setuju kah anda? Hmm, hidup tidak selalu seperti apa yang menurut anda "harusnya seperti ini". Bahkan teringat cerita Bapak, banyak temen-temennya setelah lulus malah jadi jurnalis.

Perbincangan dengan Mas Egha barusan juga ga jauh beda. Salah satu senior aku di club dan di jurusan memutuskan untuk berhenti kuliah dan pindah ke semacam sekolah film. Aku tentunya tidak akan seperti itu (semoga aku kuat dan bertahan. Paling tidak lulus dulu, perkara lulus mau kerja dimana hmm. Pengennya sih sekolah film trus mendirikan sekolah film di Indonesia (biar ga melulu nonton film luar negeri - emang bagus sih aku juga seering nonton. Seenggaknya dengan berkembangnya film Indonesia orang-orang makin tertarik dan menghargai ide mereka. Bukan terus "aku ga suka nonton film Indonesia" jujur, aku sedih banget waktu denger sahabatku sendiri bilang gitu sedangkan dia tau aku ini semacam "film (Indonesia) banget". 

Balik lagi..Bapak cerita "mahasiswa itu kadang ga ngerti dia kuliah nanti ilmunya apa yang dipake, kerja nya apa, ngapain" Udahlah belajar aja. Tapi apa iya hal yang dilakukan senior yang tidak disebut namanya itu salah? Saya sih enggak. Karena saat ini aku dalam keadaan dilema antara karier sebagai sarjana teknik (fisika) dan hobi.

Sudahlah ngantuk..

Selasa, 05 Mei 2015

Ternyata tidak semudah itu. Tidak semudah memilih pulpen dalam kotak pensil. Ternyata memang apa yang diajarkan agama (Islam-saya) dan juga adat (Jawa-saya) itu benar. Aku memang tidak mengalaminya, tapi aku bisa merasakan perih dan hancurnya hidup seperti itu. Kita itu, seperti membeli kucing dalam karung. 

Saat ini aku bukan menghindarinya, tapi aku hanya lelah. Aku hanya belum cukup umur dan pengalaman untuk membantunya. Semua ini membuatku berfikir berkali-kali lipat. Mempertimbangkan satu hingga sejuta hal yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan. Itulah alasannya.

Mungkin jika ia tahu apa yang Islam ajarkan, kejadiannya tidak seperih yang ia rasakan. Tapi aku rasa, keduanya sama sama terlambat untuk mengerti, atau bahkan tidak tahu sama sekali,

Entahlah. Kembali lagi kepada diri sendiri. Apakah aku tahu apa yang seharusnya dilakukan menurut ajaran Islam. Apa yang dilarang, dan apa yang diwajibkan. Apakah aku tahu dan melaksanakannya? Apakah aku tahu namun tidak kulakukan? Bagaimana denganmu? Hanya dirimu sendiri yang tahu. Begitu pula denganku.

“Jika cinta bisa membuat seorang perempuan setia pada satu lelaki, kenapa cinta tidak cukup membuat lelaki bertahan dengan satu perempuan?” - Asma Nadia (Surga Yang Tak Dirindukan)

Senin, 04 Mei 2015

Sendiri?

Entah kenapa semenjak pertanyaan 'presentase' yang di lontarkan sesorang malam itu di suatu malam ditengah perjalanan.. sekarang aku terngiang-ngiang sebuah lagu dimana.. hampir semua bagian videonya itu apa yang aku lakukan selama ini. Liriknya hmm ada bagian yang ga cocok sih, cuma intronya cocok bangetlah.

Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi..



Minggu, 03 Mei 2015

Semalem ada yang tanya "berapa presentasenya" "80:20" Lalu dia diam, tapi aku berubah pikiran "70:30". Pagi ini ditengah perjalanan, aku memutuskan "60:40". Namun sebenarnya, hingga tulisan ini dibuat aku tidak tahu presentase sebenarnya.

***

Sebenarnya tadi cukup melelahkan. Tapi mereka itu sangat menyenangkan. Aku jadi mikir.... banyak. Hahaa, ternyata mereka tidak seperti yang aku pikirkan. Mungkin setelah ini aku tak perlu merasa was was. Apalagi :)

Jumat, 01 Mei 2015

Hari yang panjang..

Biasa aja sih. Dari pagi udah siap siap monev sama tim di FKH UGM. Trus pulang ganti baju karena super panas gara-gara.. emang panas. Makan bareng ga jelas, yaudah sih. Sampai rumah nonton The Maze Runner. Astaga.. yang jadi Newt so cute banget padahal udah umur 24 tahun hixxx, sama temen aku masih keliatan tuaan dia *lho* Habis maghrib cus ke Festagama sendirian doang di TBY, emang pengen liat pamerannya ga mau di ganggu dan diajak buru-buru *duh jadi inget.. apa sih. Tapi banyak yang foto jadi gabisa konsentrasi baca deh. Pulang dari situ langsung ke desa Jatimulyo ada pemutaran film karena dulu kita pernah bikin film disana dan pakai aktornya masyarakat disana. Ehlah dateng jam 9 acaranya setengah 8. Telat, langsung dimaki maki senior. Yaudah sih, trus cus ke susu Pandega bareng anak fiagra. Eh keterusan ngobrol sama Yura. Yaampun, ternyata cewe tuh emang mikirnya sama ya.. hahaa yaudah deh, keasikan dan ke......

Pulang-pulang baper. hahaa, geli deh.