Laman

Sabtu, 04 Juli 2015

Aku bahkan ga ngerti sejak kapan, tapi emang udah saatnya sering2 ditanya "Maya udah punya pacar?" "Maya pacarnya siapa? "Maya pacarnya berapa?" (Hwaaat?!) "Maya kamu kok belum punya pacar?" "Kamu ga iri May sama temenmu udah pada punya pacar" "Kamu kapan , kalah sama adekmu?" "Kamu gak suka sama siapa gitu, po?" "Kamu kan di teknik, banyak cowok masak ga ada yang nyantol" (iya, terlalu banyak pusing - gak denggg) atau lebih lebih "Maya nanti kamu lulus pokoknya langsung nikah" (dalam hati ngaminin sih).

Ya ampun, pulang kampung emang gitu. Aku harus meres otak biar jawabannya tepat dan ga perlu ditanya lagi (lihat dari siapa yang nanya - yang jelas diliat dari apakah dia serius nanya, sekedar tanya, atau apalah. ya kan beda soalnya aku punya seribu alasan). Atau mentok2 cuma ketawa 'ha ha ha'.

Nggak sahabat, gak temen main, temen apa kek, om tante, sama mama nanya gitu. Lama lama minta jodohin aja sama tetangga sebelah yg gemar ke masjid nan pintar serta rupawan kesukaan mama dan ibu2 komplek *lho-gak denggg (tapi boleh juga) Astagfirullahaladzim, ini bercanda.

Gimana ya? Mau gak dipikirin tapi ya kepikiran juga. Apalagi ucapan orang tua. Kayaknya kalo dibilang bercanda ya gatau sih ya namanya orang tua kadang atau emang kalo ke anak mungkin dalam hati pasti berharap berdoa gitu. Suka mikir juga, selain memikirkan pribadi, kira2 orang tua kita suka ga ya.. Apalagi pake acara "nanti cari yang blabla kalo bisa blabla" Yah kalo mama atau ibu2 kayaknya hampir sama syaratnya (girls know that i think). Nah kalo mak mak pada ngomong ke anaknye, sebenernya yang susah juga si Bapak ini. Sebagai anak Bapak di rumah, dia kayaknya ga akan pernah ngomong but i know seperti apa yang dia harapkan, persis. Aishh, belum lagi mikir , gimana keluarga besar nanti ya.. suka ga ya, apa kata mereka ya.

Balik soal jodoh perjodohan. Ya jodoh di tangan Allah dan kita gatau dia siapa. Suka bisa aja suka siapa aja kapan aja gimana dan dimana aja cinta bisa aja cinta juga sama. Tapi hal hal kayak suka ga suka, bibit bebet bobot juga harus dipikirin. Plis deh, mungkin hal hal kecil yang kayaknya ga penting ikut dipikirin.

Sebenernya arah tulisan ini bukan ke 'mau cari pacar' atau 'cari suami segera dgn tipe blabla' atau 'sudah terlalu lama sendiri' tapi lebih ke hal hal sepele yang suka dipikirin beberapa orang yang suka diajak diskusi. Walaupun ga diceritain semua. Yakali.

Minggu, 21 Juni 2015

Katanya daftar haji 2020 nunggunya 18 tahun. Berarti umurku udah 43 tahun. Kalo molor molor makin lama lagi. Biaya nya mungkin juga makin gede (ah rejeki kalo usaha dan berdoa dateng juga). Kalo daftar sekarang, gapapa sih kalo perempuan sendirian. Tapi kan maunya sama suami *eh*. Jadi mikir-mikir. Mikir panjang..

Jumat, 19 Juni 2015

Istri Paruh Waktu?



Setelah sekian lama rasan rasan mau ngeklik video ini, akhirnya ditonton juga. Hmm jadi kepikiran sih. Si temen modisnya itu girl's thinking banget lah. Tapi ada benernya jadi si ceweknya. Ya emang setahu saya, seharusnya seperti itu. Iya ya, udah kuliah tinggi-tinggi susah, kerja dapet rezeki yang melimpah (dan insyaAllah barakah) tapi memutuskan untuk keluar. Hmm jadi mikir lagi, nanti aku gimana ya? Hahaa.. , masalah rezeki kan sudah ada yang mengatur. Yang penting ikhtiar serta bertawaqqal.

Kamis, 21 Mei 2015

Antara Hobi dan, ....

Hari ini aku banyak berfikir tentang bagaimana hidupku kedepan. Maksudku, dengan menyandang status: Maya Satih Kanteyan, ST di tahun 2018 nanti. Kuliah di Teknik Fisika memang penuh lika-liku. Aku pribadi menganggap ini susah, entahlah ada hal yang terus-menerus tinggal didalam pikiranku sejak lama sehingga muncul rasa takut luar biasa yang sulit dihilangkan.Wisuda kemarin mengingatkanku untuk segera mendongkrak nilai akademik yang carut-marut membuat hidupku semakin kacau dan kesedihan orang tua. Yaa... garda depan mulai terlihat, antara yang selalu cumlaud dan yang mengambil mata kuliah terbanyak. Sudah mulai terlihat, siapa yang ingin segera bekerja, menuntut ilmu, atau golongan orang-orang yang masih tidak jelas.

Aku jelas bukan garda depan. Mungkin tengah, atau belakang, atau hampir belakang, entahlah. Yang jelas satu hari ini aku berfikir "apa iya aku tertarik dengan ini" Hal hal yang penuh dengan matematika, atau bab fisika yang sangat tidak aku suka, sehingga aku wajib mengulang hingga lulus. Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada yang Excellent di sensor, katanya (memang begitu seharusnya), lalu bagaimana mahasiswa seperti aku yang memiliki sedikit rasa ingin menjadi seseorang yang excellent di sensor itu, Aku tahu, tidak cuma aku.

Seharusnya aku selalu mengingat bahwa karier dan hobby itu memang harus dipisahkan. Namun, apa daya, hobi ini semacam mengalir di dalam urat nadi ku. Kerja atau kuliah ya? Dulu aku memutuskan untuk bekerja, punya uang. Tapi setelah aku mengenal tim riset Akustik, aku jadi pengen kuliah Akustik. Namun, lagi-lagi.. hobi ini sangat 'mengganggu'. 

Dua tahun yang lalu sempat ditawari buat langsung masuk Institut Kesenian Jakarta di perfilman sama pakde (dosen sinematografi), tapi ya jelas ga boleh Bapak. UGM fardhu 'ain. Yogyakarta fardhu 'ain. Awal tahun kedua kemarin juga disuruh kuliah dobel perfilman. Kalo aku kuliahnya ga di Teknik Fisika yang super njeblug berasap hitam ya aku mau. Sadar dirilah sadar kemampuan.

Banyak orang yang mau masuk UGM, mau masuk Teknik, kuliah menuntut ilmu tapi tidak diterima. Banyak juga yang dengan mudah masuk, menyia-nyiakan waktu, ujung-ujungnya berprofesi yang jauh dari keteknikan. Sia-siakah kuliah 4 tahunan itu? Tidak setuju kah anda? Hmm, hidup tidak selalu seperti apa yang menurut anda "harusnya seperti ini". Bahkan teringat cerita Bapak, banyak temen-temennya setelah lulus malah jadi jurnalis.

Perbincangan dengan Mas Egha barusan juga ga jauh beda. Salah satu senior aku di club dan di jurusan memutuskan untuk berhenti kuliah dan pindah ke semacam sekolah film. Aku tentunya tidak akan seperti itu (semoga aku kuat dan bertahan. Paling tidak lulus dulu, perkara lulus mau kerja dimana hmm. Pengennya sih sekolah film trus mendirikan sekolah film di Indonesia (biar ga melulu nonton film luar negeri - emang bagus sih aku juga seering nonton. Seenggaknya dengan berkembangnya film Indonesia orang-orang makin tertarik dan menghargai ide mereka. Bukan terus "aku ga suka nonton film Indonesia" jujur, aku sedih banget waktu denger sahabatku sendiri bilang gitu sedangkan dia tau aku ini semacam "film (Indonesia) banget". 

Balik lagi..Bapak cerita "mahasiswa itu kadang ga ngerti dia kuliah nanti ilmunya apa yang dipake, kerja nya apa, ngapain" Udahlah belajar aja. Tapi apa iya hal yang dilakukan senior yang tidak disebut namanya itu salah? Saya sih enggak. Karena saat ini aku dalam keadaan dilema antara karier sebagai sarjana teknik (fisika) dan hobi.

Sudahlah ngantuk..