Laman

Kamis, 30 Juli 2015

begini saja sudah menyerah, bahkan orang lain tidak mengeluh sedikitpun menghadapi ujian yang lebih berat ketimbang diriku.
aku benar-benar ingin berlari sekencang dirimu kawan. namun, benar katanya, bahwa aku tidak harus selalu sekencang mereka.
semua ini terasa aneh. aku mungkin hanya terlalu takut. sangat takut.
"yang sabar ya" hanya itu pesan darinya.
aku tidak boleh menangis lagi, untuk apa. cukuplah kegagalan yang beruntun ini. 
terkadang sulit rasanya ketika harus tersenyum dan tertawa dibalik kehancuran ini.
bahkan mereka tidak pernah tahu, bahwa sungguh aku kecewa dengan diriku sendiri.
aku harap, kamu, dia, dan mereka bisa membuatku sangat yakin bahwa aku bisa melalui ini semua.
namun saat ini, siapa lah yang benar-benar sanggup melakukannya, selain orang tua ku. 
semua ini akan kujalani sepenuh hati, untuk diriku, keluargaku, dan juga (nantinya) kamu...


aku sangat ingin menceritakan ini. namun apalah aku tak akan sanggup menahan air mata dihadapannya. memalukan.

Minggu, 12 Juli 2015

Malam Lailatul Qadr

Sebagai orang mukmin tentu kita berlomba-lomba untuk mencapai malam lailatul qadr. Shalat malam, berdzikir, tadarus, dan berdoa kepada Allah. Masjid dipenuhi  oleh jama’ah yang melakukan I’tikaf. Sayang, aku belum pernah sekalipun merasakannya. Padahal baru saja Bapak pamit ke masjid buat I’tikaf. Sebagai wanita, aku  sedih di 10 malam terakhir ini (pada awal nya) tidak bisa melakukan shalat tarawih di masjid dan berpuasa, tidak bisa tadarus seperti biasanya. Lebih sedih lagi, mengetahui masih banyak orang (wanita) disana yang tidak memanfaatkan saat-saat seperti ini untuk beribadah. Huft, apalagi harus ngeganti puasa.. kalo yang bentar mah enak ya. Tapi sekali lagi aku bersyukur karena masih menjadi wanita normal yang mengalami datang bulan *lho*.

Alhamdulillah hari ini sudah bisa tarawih lagi di masjid dan tadarus. Masih 10 juz lagi menjelang berakhirnya Ramadhan ini. Tarawih tadi sangat aneh. Kali ini masjid memang sedang di renovasi dan hijab/ pembatas shaf wanita dan pria dibuat lebih tinggi, sehingga ketika berdiri masih tertutup walaupun masih terlihat. Waktu tadi masuk ke masjid, lihat sandal udah pada dikit. Tapi  yaa masih ada orang orang lah. Untuk lantai satu shaf wanita terdiri dari 4 shaf. Anehnya yang menjadi shaf pertama dalah shaf kedua, dan yang menjadi shaf kedua adalah shaf keempat. Oke.. shaf pertama kosong bisa dianggap karena terlalu dekat dengan shaf pria walaupun shaf paling akhir pria sudah kosong sekarang. Tapi kenapa shaf kedua wanita harus kosong satu shaf. Biasanya sih ibu-ibu pengennya sandaran di tembok belakang. Haduh duh. Yasudahlah. Alhamdulillah imamnya suaranya.. MasyaAllah indah sekali. Jadi berharap punya suami yang tilawahnya indah, biar kalo ngaji dirumah bisa betah dengerinnya *lho.. Amin deh*. Soalnya suka takut denger Bapak kalo ngaji di rumah tilawahnya kayak langgam jawa, creepy, maklum tinggal di desa dulu.


Yah, malem ini baru nyelesaiin 3 juz.  Sedihnya, ga sempet baca artinya. Cuma sempet baca terjemahan surat Maryam karena ayatnya luar biasa indahnya. Selain itu, ada satu ayat yang menarik perhatianku. Hmm, ayat itu ternyata menjawab pertanyaanku selama ini. Sampai-sampai aku merinding ketika membacanya.

Sabtu, 04 Juli 2015

Aku bahkan ga ngerti sejak kapan, tapi emang udah saatnya sering2 ditanya "Maya udah punya pacar?" "Maya pacarnya siapa? "Maya pacarnya berapa?" (Hwaaat?!) "Maya kamu kok belum punya pacar?" "Kamu ga iri May sama temenmu udah pada punya pacar" "Kamu kapan , kalah sama adekmu?" "Kamu gak suka sama siapa gitu, po?" "Kamu kan di teknik, banyak cowok masak ga ada yang nyantol" (iya, terlalu banyak pusing - gak denggg) atau lebih lebih "Maya nanti kamu lulus pokoknya langsung nikah" (dalam hati ngaminin sih).

Ya ampun, pulang kampung emang gitu. Aku harus meres otak biar jawabannya tepat dan ga perlu ditanya lagi (lihat dari siapa yang nanya - yang jelas diliat dari apakah dia serius nanya, sekedar tanya, atau apalah. ya kan beda soalnya aku punya seribu alasan). Atau mentok2 cuma ketawa 'ha ha ha'.

Nggak sahabat, gak temen main, temen apa kek, om tante, sama mama nanya gitu. Lama lama minta jodohin aja sama tetangga sebelah yg gemar ke masjid nan pintar serta rupawan kesukaan mama dan ibu2 komplek *lho-gak denggg (tapi boleh juga) Astagfirullahaladzim, ini bercanda.

Gimana ya? Mau gak dipikirin tapi ya kepikiran juga. Apalagi ucapan orang tua. Kayaknya kalo dibilang bercanda ya gatau sih ya namanya orang tua kadang atau emang kalo ke anak mungkin dalam hati pasti berharap berdoa gitu. Suka mikir juga, selain memikirkan pribadi, kira2 orang tua kita suka ga ya.. Apalagi pake acara "nanti cari yang blabla kalo bisa blabla" Yah kalo mama atau ibu2 kayaknya hampir sama syaratnya (girls know that i think). Nah kalo mak mak pada ngomong ke anaknye, sebenernya yang susah juga si Bapak ini. Sebagai anak Bapak di rumah, dia kayaknya ga akan pernah ngomong but i know seperti apa yang dia harapkan, persis. Aishh, belum lagi mikir , gimana keluarga besar nanti ya.. suka ga ya, apa kata mereka ya.

Balik soal jodoh perjodohan. Ya jodoh di tangan Allah dan kita gatau dia siapa. Suka bisa aja suka siapa aja kapan aja gimana dan dimana aja cinta bisa aja cinta juga sama. Tapi hal hal kayak suka ga suka, bibit bebet bobot juga harus dipikirin. Plis deh, mungkin hal hal kecil yang kayaknya ga penting ikut dipikirin.

Sebenernya arah tulisan ini bukan ke 'mau cari pacar' atau 'cari suami segera dgn tipe blabla' atau 'sudah terlalu lama sendiri' tapi lebih ke hal hal sepele yang suka dipikirin beberapa orang yang suka diajak diskusi. Walaupun ga diceritain semua. Yakali.

Minggu, 21 Juni 2015

Katanya daftar haji 2020 nunggunya 18 tahun. Berarti umurku udah 43 tahun. Kalo molor molor makin lama lagi. Biaya nya mungkin juga makin gede (ah rejeki kalo usaha dan berdoa dateng juga). Kalo daftar sekarang, gapapa sih kalo perempuan sendirian. Tapi kan maunya sama suami *eh*. Jadi mikir-mikir. Mikir panjang..